Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

Etnometodologi

Etnomethodologi pertama kali di perkenalkan oleh Harold Garfinkel, dalam bukunya Studies in Ethnomethodology (1984), untuk pertama kali di tahun 1967, sebuah pendekatan baru yang berbeda dari pendekatan sosiaologi biasa. Studies in Ethnomethodology terbit pada priode revolusi ilmu-ilmu social yang kacau, dan selama waktu-waktu itu , dominasi paradikma fungsional-struktural Parsons yang menjadi standar sosiologi sebelumnya masih berdiri tegak. Konsekuensi yang tidak menyenangkan adalah ethnometodologi di pahami sebagai “metode tanpa substansi”(Coser: 1975).

            Garfinkel, sudah mendeklarasikan sebelumnya kalau dari istilah `ethnometodologi` inilah akan tersusun sebuah perinsip yang akan membentuk jalan hidupnya sendiri. (Garfinkel:1974,hal.18)

            Garfinkel sepanjang hayatnya difokuskan mengenai permasalahan-permasalahan konseptual yang menjadi topic utama sosiologi, isu ini ialah mengenai tindakan social, hakekatt intersubjektivitas dan pembentukkan pengetahuan secara social. Grafinkel mengeksplorasi bidang ini melalui sifat-sifat dasar dan penalaran praktis. Studi ini di maksudkan untuk memisahkan antara teori tindakan dari kesibukan tradisionalyang bergulat dengan masalah motivasi.

            Garfinkel lalu menyimpulkan bahwa jikalau tindakan—tindakan sosisal sehari-hari di bangun di atas premis rasionaliitas ilmiah, maka hasilnya bukan sebuah aktivitas melainkan ketidak aktifan, disorganisasi dan anomi (inactivity, disorganization and anomie, Garfinkel 1952;1984,hal.270-271). Dengan usulan yang terakhir ini Garfinkel menetapkan sebuah wilayah baru bagi kajian social;  study tentang sifat-sifat penlaran akal-sehat praktis dalam situasi tindakan sehari-hari. Usulan ini mengandung penolakan penggunaan rasionalitas ilmiah hsebagai  titik sentral perbandingan untuk menganalisis penalaran sehari-hari.

            Study ini mendorong analis untuk memperkirakan semua komitmen apapun kepada versi tertentu struktus-struktur social sebelumnya (termasuk versi yang di pegang analis dan pertisipan sendiri )untuk mendukung penyelidikan tentang bagaimana petisipan nmenciptakan, merangkai, memproduksi dan memproduksi struktur-struktur social yang di ddalamnya mereka berorientasi. Ini disebut Ethnometodological indifference (Garfinkel dan Sack:1970) .Jadi di lapisan dasarnya study ini adalah studi tentang peenalaran praktis dan tindakan praktis, menahan diri untuk tidak melakukan penilaian yang berefek mendukung atau menolak hal tersebut.

            Sasaran Ethnometodologi adalah deskripsi menditail prektek2 sosial yang terorkanisasikan secara alamiah yang, seperti observasi-observasi di dalam ilmuu alam, bias di reproduksi, di periksa, dievaluasi dan membentuk dasar bagi studi dan penyimpulan yang  alamiah.

 

Sumber;

Giddens, Anthony dan Turner, Jonathan, 1987.Social Theory Today : Panduan SistematisTradisi dan Tren Terdepan Teori Sosial.Yogyakarta:Pustaka Pelajar, hal 383-470

Senin, 29 November 2010

Pendekatan Verstehen (max Webber)

 

Max Weber menawarkan model analisis sistem simbol dengan pendekatanVerstehen (pemahaman) yang memungkinkan orang untuk bisa menghayati apa yang diyakini oleh pihak lain tanpa prasangka tertentu. Dalam tradis Verstehen, jika obyeknya adalah sistem budaya, maka bisa dipihal antara tradisi agung (great trdition) dan tradisi rendah (litlle tradition).

Aspek pemikiran Weber yang paling terkenal yang mencerminkan tradisi idealis adalah tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif) sebagai metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subyektif tindakan  sosial. Bagi weber, istilah ini tidak hanya sekedar merupakan introspeksi. Intrspeksi bisa memberikan seorang pemahaman akan motifnya sendiri atau arti-arti subyektif, tetapi tidak cukup untuk memahami arti-arti subyektif dalam tindakan orang lain. Sebaliknya, apa yang diminta adalah empati, kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka berpikir orang lain yang prilakunya mau dijelaskan dan situasi serta tujuan-tujuannya mau dilihat menurut perspektif itu. Proses itu menunjuk pada konsep “mengambil peran” yang terdapat dalam interaksionisme simbol.

Tindakan Subyek harus dimengerti dalam hubungannya dengan arti subyektif yang terkandung didalamnya. Untuk itu, orang perlu mengembangkan suatu metode untuk mengetahui arti subyektif ini secara obyektif dan analitis.
Konsep Rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa obyektif mengenai arti-arti subyektif dan juga merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda. Pendekatan “ obyektif” hanya berhubungan dengan gejala-gejala yang dapat diamati (benda fisik atau perilaku nyata), sedangkan pendekatan “subyektif “ berusaha untuk memperhatikan juga gejala-gejala yang sukar ditangkap dan tidak dapat diamati seperti perasaan individu, pikiran dan motif-motifnya.

Memahami reaitas sosial yang dihasilkan oleh tindakan itu berarti menjelaskan mengapa manusia menentukan pilihan. Metode yang dikembangkan oleh Weber adalah Verstehen, karena menurutnya sosiologi juga adalah manusia yang mengapresiasi lingkungan sosial dimana mereka berada, memperhatikan tujuan-tujuan warga masyarakat yang bersangkutan dan oleh sebab itu berupaya memahami tindakan mereka, sehingga konsep inilah yang dapat membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu sosial.

Verstehen adalah suatu metode pendekatan yag berusaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa social dan histori. Pendekatan ini bertolak dari gagasan bahwa tiap situasi social didukung oleh jaringan makna yang di buwat oleh actor yang terlibat di dalamnya. Yang menjadi inti dari sosiologi bukanlah bentuk-bentuk substansial dari kehidupan masyarakat maupun nilai yang obyektif dari tindakan, melainkan semata-mata arti yangnyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan subyektif itu yang di sebut dengan Verstehende sociologie.


Minggu, 10 Oktober 2010

Paradigma Definisi Sosial


Weber sebagai pengemuka exemplar dari paradigma ini mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menjadi pokok persoalan sosiologi. Sehingga inti tesis yang dibuatnya adalah “tindakan yang penuh arti” dari individu. Tindakan sosial adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Sedangkan tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau obyek fisik semata tanpa dihubungkannya dengan tindakan orang lain bukan termasuk dalam tindakan sosial.

Secara definitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Definisi ini terkandung dua konsep dasar di dalamnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Kensep kedua menyangkut metode untuk menerangkan konsep pertama.

Tindakan sosial yang dimaksudkan Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat “membatin” atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa bisa juga berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu.

Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi. Pertama, tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Ini meliputi berbagai tindakan nyata. Kedua, tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif. Ketiga, tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam. Keempat, tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. Kelima, tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

Tindakan sosial memiliki ciri-ciri lain. Tindakan sosial dapat dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang diarahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu atau waktu yang akan datang. Dilihat dari segi sasarannya maka “pihak sana” yang menjadi sasaran tindakan sosial si aktor dapat berupa seorang individu atau sekumpulan orang. Dengan membatasi suatu perbuatan sebagai sustu tindakan sosial, maka perbuatan-perbuatan lainnya tidak termasuk ke dalam obyek penyelidikan sosiologi. Tindakan nyata tidak termasuk sebagai tindakan sosial kalau secara khusus diarahkan kepada obyek mati. Sebabnya ialah karena reaksi yang timbul itu tanpa sesuatu arti yang diarahkan kepada orang lain.

Untuk mempelajari tindakan sosial, Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (interpretative understanding). Untuk mempelajarinya tidak mudah bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja dia tidak akan yakin bahwa perbuatan itu memepunyai arti subyektif dan diarahkan kepada orang lain. Peneliti sosiologi harus mencoba menginterpretasikan tindakan si aktor. Sosiolog harus memahami motif dari tindakan si aktor. Meurut Weber untuk memahami tindakan si aktor dapat menggunakan dua cara, yaitu dengan melalui kesungguhan dan dengan mencoba mengenangkan dan menyelami pengalaman si aktor. Peneliti menempatkan dirinya dalam posisi si aktor serta mencoba memahami barang sesuatu seperti yang dipahami oleh aktor. Atas dasar rasionalitas tindakan sosial, Weber membedakannya ke dalam empat tipe. Semakin rasional tindakan sosial itu semakin mudah difahami. Terdiri dari Zwerk rational, Werkrational artion, Affectual action, dan Traditional action.

Zwerk rational yakni tindakan sosial murni. Dalam tindakan ini aktor tidak hanya sekedar menilai cara yang terbaik untuk mencapai tujuannya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri. Tujuan dalam Zwerk rational tidak absolut. Akan mudah memahami tindakan ini jika aktor berkelakuan dengan cara yang paling rasional. Werktrational artion, dalam tipe ini aktor tidak dapat menilai apakah cara yang dipilhnya itu merupakan yang paling tepat ataukah lebih tepat jika menggunakan cara yang lain. Dalam tindakan ini antara tujuan dengan cara-cara mencapainya cenderung sulit untuk dibedakan. Tetapi tindakan ini rasional, karena pilihan cara-cara kiranya sudah menentukan tujuan yang diinginkan. Tindakan Werktrational artion masih rasional meski tidal serasional Zwerk rational. Karena itu dapat dipertanggungjawabkan untuk difahami.

Affectual action merupakan tindakan yang diuat-buat. Dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepira-puraan si aktor. Tindakan ini sukar dipahami dan kurang auat tidak rasional. Traditional actoin merupakan tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu saja. Kedua tipe tindakan ini merupakan tanggapan secara otomatis terhadap rangsangan dari luar. Sehingga tidak termasuk ke dalam tindakan yang penuh arti dan menjadi sasaran penelitian sosiologi.

Konsep kedua dari Weber adalah konsep tentang antar hubungan sosial (social relationship). Didefinisikan sebagai tindakan yang beberapa orang aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dan dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain.

Teori Fenomenologi

Teori-teori yang bernaung di bawah paradigma definisi sosial melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang berada d luar individu. Kenyataan sosial tersebut merupakan suatu realitas yang berdiri sendiri di luar sana dan terkadang bisa mempengaruhi individu. Ia bahkan bisa memaksa individu unutk mengikuti kemauannya. Pandangan tentang kenyataan sosial yang demikian berbeda sekali dari pandangan interaksionisme simbolik. Bagi pendukung teori interaksioninsme simbolik, kenyataan sosial tidak mempunyai arti di dalam dirinya sendiri kalau tidak diberi arti oleh individu. Dengan kata lain, realitas sosial sangat bergantung kepada makna yang diberikan individu. Misalnya Stadion Madawat di Maumere bisa mempunyai arti yang berbeda-beda untuk para pemain bola, penjual minuman ringan, pencopet, penonton,dan lain-lain.

Sebagai teori yang bernaung di bawah paradigma definisi sosial, fenomenologi maju selangkah lagi dengan mengatakan bahwa kenyataan sosial itu tidak bergantung kepada makna yang diberikan oleh individu melainkan pada kesadaran subyektif si aktor. Tujuan dari fenomenologi adalah menganalisis dan melukiskan kehidupan sehari-hari atau dunia kehidupan sebagaimana disadari oleh faktor. Dalam melukiskan studi ini seorang individu harus mengurungkan (bracketing off) atau meninggalkan semua asumsi atau pengetahuan yang sudah tentang struktur sosial dan mengamati sesuatu secara langsung. Pendukung teori ini berpendapat bahwa sekalipun orang melihat kehidupan sehari-hari seperti terjadi begitu saja,namun analisis fenomenologi bisa menunjukkan bagaimana dunia sehari-hari itu tercipta.

Fenomenologi masuk ke dalam dunia sosiologi melalui karyaAlfred Schutz. Alfred Schutz sendiri dipengaruhi oleh Filsuf Jerman Edmund Husserl. Tetapi sebuah studi sosiologis yang terkenal dengan menggunakanprinsip-prinsip fenomenologi yang terkenal dilakukanoleh P. Berger dan T. Luckman dalam buku mereka yang berjudul The Social Construction of Reallity (1967). Studi yang kedua dilakukan oleh George Psathas dan Frances Waksler di dalam karya mereka yang berjudul Essential Features of Face to Face Interaction (1973). Sebelum menguraikan secara terperinci karya mereka, kita terlebih dahulu melihat pokok-pokok pikiran Edmund Husserl dan Alfred Schutz di dalam fenomenologi.

1. Fenomenologi Awal: Pemikiran Edmund Husserl

1.1 Problem Filosofi Mendasar.

Menurut Edmund Husserl, pertanyaan-pertanyaan mendasar yang mengkonfrontir semua usaha pencaharian filosofi adalah: Apa artinya riil? Apa yang sesungguhnyan ada di dunia ini? Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui apa yang ada? Sebagai seorang filsuf, pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah penting untuk Edmund Husserl dan menarik perhatiannya. Menurut Husserl, manusia mengenal dunia hanya melalui pengalaman. Segala sesuatu tentang dunia di luar sana di terimanya melalu indera-indera dan dapat diketahui hanya melalui kesadaran. Keberadaan orang-orang lain, nilai-nilai, atau norma-norma, dan obyek-obyek fisis lainnya selalu diantarai oleh pengalaman yang seolah-olah mencatat semuanya pada kesadaran manusia. Tetapi oleh karena kesadaran manusia bersifat terbatas dan unik, bagaimana mungkin seseorang mengkleim bahwa apa yang disadarinya itu adalah suatu realitas yang diterima umum atau suatu fakta sosial.

Berhubung kesadaran itu begitu penting dan menjadi sumber pengetahuan, maka pencaharian filosotis harus berusaha untuk mengerti bagaimana kesadaran itu bekerja dan bagaimana ia mempengaruhi manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Proses kerja dari kesadaran seperti itulah yang menjadi perhatian utama dari sosiologi fenomenologi.

1.2 RUANG LINGKUP KESADARAN

Husserl menggunakan istilah “dunia kehidupan” dalam pengertian dunia kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini ia menekankan bahwa manusia bekerja di dalam dunia yang diterima begitu saja dari hari ke hari yang menyerap masuk ke dalam kegiatan mental mereka. Dunia kehidupan sehari-hari itu terdiri dari obyek-obyek, orang-orang, tempat-tempat, ide-ide, dan hal-hal lainnya yang dilihat, diterima oleh manusia sebagai sesuatu yang berada di luar sana (fakta sosial) dan menentukan parameter atau ukuran untuk segala sesuatu yang mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan sebagai perwujudan kesadaran mereka dinilai oleh sesuatu yang berada di luar diri mereka (Fakta sosial) seperti masyarakat dengan hukum-hukum, norma-norma, atau nilai-nilai, yang dipegangnya.

Dunia kehidupan sehari-hari atau dunia dengan sikap alamiah merupakan satu realitas atau fakta bagi manusia yang menjadi ciri utama konsep Husserl tentang dunia dengan sikap alamiah. Konsep tersebut menjadi dasar dari fenomenologi modern dan harus mendapat penekanan adalah :

· Dunia kehidupan (sehari-hari )diterima begitu saja (take for granted). Dunia keseharian itu jarang menjadi topik pemikiran reflektif. Kendati demikian, dunia yang diterima begitu saja tanpa refleksi itu mempengaruhi cara-cara manusia bertindak dan berpikir. Dengan kata lain, kehidupan sehari-hari sebagai suatu fakta sosial sangat kuat mempengaruhi individu di dalam bertindak dan berpikir.

· Manusia hidup dengan asumsi bahwa mereka mengalami dunia secara sama. Tetapi oleh karena setiap orang mengalami hanya kesadarannya sendiri yang unik dan khas, maka daia tidak bisa memastikan bahwa asumsi yang lahir dari kesadarannya adalah benar. Dia tidak bisa memastikan bahwa apa yang disadarinya juga disadari oleh orang-orang lain. Tetapi di dalam kenyataanya orang berbuat seolah-olah mereka menyadari hal yang sama dengan membuat asumsi bahwa mereka mengalami dunia sosial yang sama.

Oleh sebab itu kegiatan manusia dilakukan dalam dunia kehidupan (sehari hari) yang diterima begitu saja dan kemudian menganggap bahwa mereka mengalami hal yang sama tidak bisa diterima. Apabila dunia kehidupan (sehari-hari) seseorang membentuk kesadarannya dan mempengaruhi tingkah lakunya, bagaimana pengetahuan obyektif tentang tingkah laku dan organisasi manusia menjadi mungkin?. Ini menjadi pertanyaan yang menyebabkan Husserl mengkritik ilmu alam dan ilmu positif.

1.3 Kritik Terhadap Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan berasumsi bahwa dunia fakta berada di luar sana dan bersifat independen dan eksternal terhadap kesadaran manusia. Tetapi Husserl menentang pandanagn ini dengan menyatakan banwa jika seseorang mengetahui sesuatu hanya melalui kesadaran, dan kesadaran itu dibentuk oleh dunia kehidupan (sehari – hari) yang diterima begitu saja. Bagaimana mungkin ukuran obyektif dari dunai eksternal itu bisa diperoleh? Bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengukur secara obyektif sebuah dunia eksternal sementara satu – satunya dunia yang dialami oleh seseorang individu adalah dunia kehidupan (sehari – hari dari kesadarannya sendiri).

1.4 Jalan Keluar Yang Dianjurkan Husserl

Jalan keluar yang dianjurkan oleh Husserl untuk memecahkan masalah ini bersifat filosofis. Dia membela apa yang diistilahkannya mengambil esensi dari kesadaran guna memahami peristiwa – peristiwa sosial, proses dasar melalui mana peristiwa – peristiwa itu diterima yakni kesadaran harus difahami. Isi substantif dari kesadaran atau dari dunia kehidupan (sehari –hari) bukanlah hal yang paling penting melainkan proses abstrak dari kesadaran itulah yang harus menjadi pencarian filosofis.

Husserl membela apa yang diistilahkannya dengan “abstraksi radikal” dari pengalaman interpersonal. Orang harus berusaha membatalkan untuk sementara (suspend) atau mengurangkan (bracketing) sikap alamiah (sikap biasa – biasa) mereka dan berusaha mengerti proses – proses fundamental dari kesadaran itu sendiri. Husserl bermaksud menciptakan sebuah teori abstrak tentang kesadaran yang mengurungkan (bracketed out) atau menunda (suspended) segala macam asumsi tentang dunia sosial yang bersifat eksternal di luar sana.

Sumbangan Husserl Untuk Fenomenologi doktrin filosofi Huseseri kelihatan gagal. Dia tidak berhasil mengembangkan teori abstrak tentang kesadaran manusia yang secara radikal ditarik dari dunia kehidupan (sehari-hari) tetapi ide-idenya menjadi dasar dari fenomenologi dan pengembangannya dalam etnometodologi. Pokok-pokok pikirannya yang kini menjadi dasar dari fenomenologi moderen dapat diringkasaskan sebagai berikut :

a. penekanan terhadap proses-proses abstrak dari kesadaran merangsang parapemikir yang lebih kemudian untuk mencari tahu bagaimana proses-proses seorang individu bisa membentuk hakekat dunia sosial. Dunia tidak dilihat sebagai sesuatu yang dihadirkan kepada kesadaran, tetapi diciptakan dari proses subyektif pikiran manusia.

b. keprihatinnya tehadap penciptaan dunia kehidupan (sehari-hari) menghantar para ahli untuk mempertannyakan bagaimana manusia menciptakan rasa realitas dan bagaimana rasa realita ini dipertyentangkan dengan ‘sesuatu yang bener-benar rill’

c. kritik terhadap ilmu sosial telah membantu orang-orang di dalam fenomenologi, berpendapat bahwa ilmu sosial yang sungguh-sungguh adalah tidak mungkin ataupun sekurtang-kurangnya

d. kegagalan Husserl untuk mengembangkan teori abstrak tentang kesadaran meyakinkan para pendukung fenomenologi bahwa memahami kesadaran manusia dan kenyataan sosial hanya bisa terjadi dengan meneliti individu di dalam interaksi aktual dan bukannya melalui abstrak radikal.

2. Fenomenologi Alfred Schutz

Persoalan pokok yang hendak diterangkan oleh teori ini justru menyangkut persoalan pokok ilmu sosial sendiri, yakni bagaimanan kehidupan bermasyarakat itu dapat terbentuk. Alfred Schutz memliki teori yang bertolak belakang dari pandangan Weber. Alfred berpendapat bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti.

Pemahaman secara subyektif terhadap sesuatu tindakan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses interaksi sosial. Baik bagi aktor yang memberikan arti terhadap tindakannya sendiri maupun bagi pihak lain yang akan menerjemahkan dan memahaminya serta yang akan beraksi atau bertindak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh aktor.

Schutz mengkhususkan perhatiannya kepada satu bentuk dari subyektivitas yang disebutnya, antar subyektivitas. Konsep ini menunjuk kepada pemisahan keadaan subyektif atau secara sederhana menunjuk kepada dimensi dari kesadaran umum ke kesadaran khusus kelompok sosial yang sedang saling berintegrasi. Intersubyektivitas yang memungkinkan pergaulan sosial itu terjadi, tergantung kepada pengetahuan tentang peranan masing-masing yang diperoleh melalui pengalaman yang bersifat pribadi.

Konsep intersubyektivitas ini mengacu kepada suatu kenyataan bahwa kelompok-kelompok sosial saling menginterpretasikan tindakannya masing-masing dan pengalaman mereka juga diperoleh melalui cara yang sama seperti yang dialami dalam interaksi secara individual. Faktor saling memahami satu sama lain baik antar individu maupun antar kelompok ini diperlukan untuk terciptanya kerja sama di hampir semua organisasi sosial.

Schutz memusatkan perhatiannya kepada struktur kesadaran yang diperlukan untuk terjadinya saling bertindak atau interaksi dan saling memahami antar sesama manusia. Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok.

2.1 Empat unsur pokok dari teori ini

Pertama, perhatian terhadap aktor. Persoalan dasar ini menyangkut metodologi. Bagaimana caranya untuk mendapatkan data tentang tindakan sosial itu subyektif mungkin. Penggunaan metode ini dimaksudkan pula untuk mengurangi pengaruh subyektivitas yang menjadi sumber penyimpangan, bias dan ketidaktepatan informasi. Menurut pandangan ahli ilmu alam hal seperti itu tidak mungkin dilakukan terhadap obyek studi sosiologi.

Pendekatan obyektif dalam sosiologi sebenarnya sudah dimulai oleh Durkheim, dengan menyatakan fakta sosial sebagai barang sesuatu yang nyata. Pendekatan ini mendesak para sosiolog untuk mengumpulkan data secara obyektif tentang fakta sosial dengan mengurangi peranan kesan-kesan dan ide si peneliti sendiri tentang kenyataan sosial. Namun pendekatan obyektif yang digunakan di ilmu alam justru tidak akan mampu mengungkapkan kenyataan sosial secara obyektif. Alasannya manusia yang menjadi obyek penelitian bukan hanya sekedar obyek dalam dunia nyata tetapi sekaligus merupakan pencipta dari dunianya sendiri.

Sehingga dapat dikatakan naif kalau ada yang beranggapan bahwa seseorang akan dapat memahami keseluruhan tingkah laku manusia, hanya dengan mengarahkan perhatian kepada tingkah laku yang nampak atau yang muncul secara konkrit saja. Tantangan bagi ilmuwan sosial adalah untuk memahami makna tindakan aktor yang ditujukannya juga kepada dirinya. Bila pengamat menerapkan ukuran-ukurannya sendiri atau teori-teori tentang makna tindakan, dia tidak akan dapat menemukan makna yang sama di antara aktor itu sendiri. Dia tidak akan pernah menemukan bagaimanan realita sosial itu diciptakan dan bagaimanan tindakan berikutnya akan dilakukan dalam kontek pengertian mereka.

Kedua, memusatkan perhatian kepada kenyataan yang penting atau yang pokok dan kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude). Alasannya adalah bahwa tidak keseluruhan gejala kehidupan sosial mampu diamati. Karena itu perhatian harus dipusatkan kepada gejala yang penting dari tindakan manusia sehari-hari dan terhadap sikap yang wajar. Proses terbentuk fakta sosial menjadi pusat perhatian dan jelas bukan bermaksud mempelajari fakta sosial secara langsung. Bedanya terletak pada bahwa sementara paradigma fakta sosial mempelajari fakta sosial sebagai pemaksa terhadap tindakan individu, maka fenomenologi mempelajari bagaimanan individu ikut serta dalam proses pembentukan dan pemeliharaan fakta sosial yang memaksa mereka itu.

Ketiga, memusatkan perhatian kepada masalah mikro. Mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka untuk memahaminya dalam hubungannya dengan situasi tertentu.

Keempat, memperhatikan pertumbuhan, perubahan, dan proses tindakan. Berusaha memahami bagaimana keteraturan dalam masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam pergaulan sehari-hari. Norma-norma dan aturan-aturan yang mengendalikan tindakan manusia dan yang memantapkan struktur sosial dinilai sebagai hasil interpretasi si aktor terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya. Manusia bukanlah wadah yang pasif sebagai tempat menyimpan dan mengawetkan norma-norma.

Sumber :

Raho,Bernard SVD. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007

Ritzer,George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: CV. Rajawali, 1980

Minggu, 01 Agustus 2010

Krisis Relevansi Antropologi di Indonesia

Apa relevansi antropologi untuk Indonesia saat ini? Pertanyaan ini seolah smash bola voli dari umpan tarik tak terduga. Adalah dosen senior antropologi Amri Marzali yang melontarkannya. Tampil sebagai keynote speaker dalam Ć¢€4th International Symposium of Jurnal Antropologi IndonesiaĆ¢€ di Universitas Indonesia, 12-15 Juli 2005, Amri merasa gelisah dan prihatin terhadap krisis relevansi yang sedang menerpa disiplin antropologi, khususnya di Indonesia.

Menurutnya, krisis relevansi itu mencakup tiga hal. Pertama, berkaitan dengan konsep utilitas dalam ilmu ekonomi atau kurang lebih asas manfaat seperti dalam ilmu ekonomi. Hal ini berhubungan dengan keadaan bahwa saat ini antropologi berkembang dalam masyarakat yang berorientasi pasar. Kedua, berkaitan dengan kekuatan explanatory, sampai seberapa jauh antropologi dapat menjelaskan masalah-masalah sosial di lingkungannya secara ilmiah. Ketiga, berhubungan dengan moral significance yang menyangkut cara dan tujuan penggunaan antropologi. Tentu saja ini berhubungan dengan etika keilmuan, yang menyangkut untuk apa dan siapa kegiatan keilmuan dilakukan, untuk kejahatan kemanusiaan atau kemaslahatan.

Tulisan ini hendak memberikan beberapa catatan mengenai krisis relevansi seperti yang telah diungkapkan. Pertama, kenyataan di lapangan menunjukkan, belakangan kajian-kajian yang menggunakan antropologi sebagai alat analisa semakin banyak. Hal ini ditunjukkan dengan terbitnya buku-buku kajian keislaman di Indonesia yang ditulis baik oleh sarjana Barat ataupun Timur, termasuk Indonesia. Beberapa proyek departemen, seperti Depdiknas, sebagian penelitiannya menggunakan pendekatan antropologi untuk memperoleh penjelasan terhadap beberapa masalah pendidikan di Indonesia. Sebagian LSM juga menggunakan jasa ilmu ini dalam riset-riset yang mereka lakukan.

Sayangnya, pada saat yang sama, secara institusional dan akademik, antropologi tidak menjadi jurusan atau program studi yang marketable. Banyak perguruan tinggi negeri yang tersebar di seluruh Indonesia tapi tidak punya jurusan antropologi. Apalagi untuk swasta, penulis belum mendengar ada yang berani membuka jurusan antropologi. Ini memperlihatkan adanya kekhawatiran, membuka jurusan ini tidak akan memberikan keuntungan apa-apa karena tidak ada peminatnya. Bandingkan dengan jurusan akuntansi, manajemen, psikologi, atau yang sedang menjadi tren sekarang ilmu komunikasi.

Alasan yang mudah diduga mengapa hanya sedikit mahasiswa yang memilih jurusan antropologi adalah karena lulusan jurusan ini tidak mudah dalam memperoleh pekerjaan. Faktor prospek masa depan adalah pertimbangan yang sangat wajar dan realistis. Banyak mahasiswa antropologi yang penulis jumpai mengaku memilih jurusan antropologi sebagai pilihan kedua atau ketiga ketika mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Artinya, selain dianggap tak terlalu menjanjikan di satu sisi, juga bahwa antropologi belum bisa mempromosikan dirinya sendiri sebagai pilihan favorit.

Kedua, selama ini antropologi masih menjadi disiplin yang lebih berorientasi pada keilmuan an sich, dalam hal ini sebagai ilmu humaniora atau sosial, yang basis utamanya penelitian lapangan. Sudah saatnya untuk dipikirkan, selain berorientasi keilmuan, antropologi juga mengembangkan diri dengan berorientasi antropolog sebagai profesi. Istilah seperti antropolog, sosiolog, bahkan juga geolog dan beberapa yang lain pengertiannya bukanlah profesi, tetapi secara lazim berkonotasi pada kepakaran atau keahlian.

Mereka biasanya berprofesi sebagai dosen dan atau peneliti. Bandingkan dengan disiplin psikologi yang selain berorientasi keilmuan dengan melahirkan para sarjana psikologi, juga mencetak profesi psikolog. Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mengada-ada bagi antropologi untuk memperluas orientasi akademisnya.

Tentu saja ini tidak semudah membalik telapak tangan. Yang dibutuhkan adalah kerja keras, sehingga pada saatnya masyarakat akan melihat antropologi sebagai pilihan yang menjanjikan. Hal ini kiranya tidak jauh dari harapan Amri Marzali agar antropologi tidak mengenyampingkan applied anthropology, yang menurutnya sebagian ahli antropologi mengkhawatirkan akan menurunkan gengsi disiplin ini.

Catatan lain, bahwa para sarjana antropologi juga mempunyai pekerjaan rumah untuk menggeser citra yang telanjur melekat pada benak masyarakat awam bahwa disiplin ini adalah ilmu yang hanya mempelajari masyarakat primitif.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa antropologi memang belum dipromosikan secara maksimal. Bahwa cakupan kajian antropologi kini telah sedemikian luasnya sehingga merambah pada kehidupan komunitas perkotaan yang kosmopolit, hal ini merupakan kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Poin ini juga mempunyai hubungan dengan antropologi terapan yang semestinya mempunyai sensitivitas terhadap berbagai masalah yang timbul dalam masyarakat sebagai dampak globalisasi.

Akhir kata, penulis berharap catatan ini bisa menyambung lidah kelu Amri Marzali, salah satu mursyid antropologi di Indonesia saat ini, yang telah memperjuangkan kemajuan disiplin antropologi agar bisa memberi kontribusi lebih besar kepada bangsa ini.

ingat saudaraku!!!!

Barang siapa yang memelihara ketaatan

Kepada ALLAH di masa muda dan masa kuatnya,

maka ALLAH akan memelihara kekuatannya

disaat tua dan saat kekuatannya melemah.

Ia akan tetap di beri kekuatan, pendengaran,

penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal.

(ibnu Rajab Al-Hambali)


idza shadaqa al 'azamu wadla'a al sabil

Hanya orang yang mau berfikirlah yang meghargai kita, menghargai arti penting dawah. Aku ingat dalam catatan harian Soe Hok Gie ia pernah menuliskan

(Don’t think you can frighten me by telling me that I am alone. God is alone……….
the loneliness of God is his strength…)


Icetea Ghizha
Icetea Ghizha
Create Your Badge

BELAHAN JIWAKU

BELAHAN JIWAKU
saudara seperjuangan di SKI FISIP UNAIR tercinta