Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Juli 2010

Dakwah dalam "METAL" Cukup 1 Jari

Oleh Ichsan Emrald

Mereka bergabung untuk berdakwah lewat beragam genre musik.

Lapangan Bulungan, Jakarta Selatan, berselimut hitam. Para pria berbaju gelap memadat di sana. Di depan, sebuah panggung besar berdiri megah dengan membentangkan poster besar bertuliskan 'Approach Deen, Avoid Sins'.

Sesekali terdengar teriakan lantang menggemuruhkan asma Allah. ''Allahu Akbar, Allahu Akbar''. Serentak pula, mereka bersama menegakkan telunjuk dan mengarahkannya ke atas langit.

Tabligh akbar? Maaf, tebakan Anda salah. Karena setelah teriakan lantang itu, kita akan disuguhi lagu-lagu kencang, bahkan bisa dibilang garang. Hari itu, sekitar 14 band berkumpul di Bulungan. Di antara beragam genre musik yang ikut serta, band metal tampak mendominasi. Di sana, Tengkorak, Purgatory, The Roots of Madinah, hingga Qishosh menampilkan aksinya.

Namun, berbeda dengan stigma yang kerap menyertai kelompok itu, mereka justru menyuarakan antitesis. ''Tujuan kami hanya membuat pilihan. Sebuah pilihan yang benar ketika saat ini pilihannya cuma satu, yaitu setan semua,'' ucap Ombat atau Mohammad Hariadi Nasution, vokalis band Tengkorak yang berdiri sejak tahun 1993 ini.

Berawal dari acara Urban Garage Festival yang memberikan uang hasil penjualan tiket dan merchandise untuk dana kemanusiaan Palestina itu, Ombat dan teman-teman sepakat mengadakan acara metal yang beda. Sebuah konser musik dengan muatan syiar yang sangat kental di sana.

Awalnya, acara tersebut hanya diikuti beberapa band. Namun, setelah dipublikasikan, band-band berpikiran serupa untuk turut terlibat. ''Satu hal yang saya petik, begitu memasyarakatnya alkohol hingga kami tidak tahu band-band itu di jalur yang sama dengan kami,'' ungkap Bonty Umbara, gitaris band Purgatory.

Cibiran tak urung mereka terima karena dianggap melawan arus. Dunia underground , khususnya metal, memang identik dengan minuman keras, seks bebas, narkoba, hingga penyembahan setan. Bonty tak menyangkal hal tersebut. ''Bohong jika ada yang bilang metal itu jauh dari drugs dan alkohol, tetapi tidak semuanya seperti itu saat ini,'' ungkap Bonty yang juga kakak dari Anggi, personel Purgatory.

Anti-kemapanan
Sutradara video klip dan film pendek ini juga sempat bingung melihat pakem metal yang menolak kemapanan dan sistem. Anehnya, mereka justru menciptakan sebuah sistem yang memuja minuman keras, seks bebas, dan narkoba. ''Metal yang tadinya militan, saat ini tidak lagi militan karena kecemplung ke dunia hedonis. Kami ingin membuat metal menjadi militan lagi, tapi militan yang benar,'' tambah Ombat.

Bagi Bonty, acara ini dibuat bukan sekadar untuk mengubah wajah metal atau dunia underground , tetapi juga mencoba untuk menyadarkan anak-anak muda yang mulai mengenal metal untuk tidak terjerumus ke dunia kelam yang pernah mereka lakoni. ''Kami hanya ingin menyelamatkan masa depan anak-anak ini. Moral bangsa bisa rusak kalau anak mudanya jauh dari agama,'' ungkapnya.

Maka, satu-satunya cara untuk menjauhi hal-hal itu adalah dengan kembali ke fitrah, yaitu Islam. ''Bukan kami band-band ini yang melarang, tetapi Islam yang mengharamkan,'' tutur Bonty dengan nada tegas.

'Misi' itu juga yang menghadirkan 'salam metal' yang berbeda. Bukan dua atau tiga jari seperti dulu, melainkan satu jari. Namun, kata Ombat, ''Salah kalau dibilang komunitas metal satu jari, yang benar salam satu jari. Lha wong yang ikut bukan hanya metal, ada rap, rock, serta grind core .''

Di mata Luthfi, anggota komunitas Punk Muslim, acara seperti inilah yang ia tunggu. Komunitas yang dibentuk oleh almarhum Budi Choiruni alias Buce ini berupaya mengajak anak-anak punk yang sebagian besar Muslim untuk kembali ke Islam.

Selama ini, diakui Luthfi, anggota Punk Muslim sangat sulit menembus hati kawan-kawan lain yang beraliran punk. ''Punk ya punk, Muslim ya Muslim, ngapain dicampur aduk sih ,'' ujar Luthfi menirukan ucapan kawannya.

Namun, tak ada kata menyerah untuk melangkah ke jalan kebaikan. Seperti diungkap Tufail Al Ghifari, pentolan The Roots of Madinah, ''Kita semua memiliki visi dan misi yang sama, menggunakan musik sebagai media untuk menyadarkan anak-anak muda.'' ed: endah hapsari



Dakwah Jalur Lambat


Band metal yang dekat dengan segala stigmanya membuat gelisah Mohammad Hariadi Nasution alias Ombat, vokalis band Tengkorak yang beraliran grind core . Dia pun sempat menelaah secara mendetail tentang sejarah musik metal yang dekat dengan segala 'racun dunia' itu.

Berdasarkan studinya, konsep satanisme ataupun penyembahan setan dalam lirik maupun saat tampil di panggung hanyalah 'kreativitas' dari para band-band metal terdahulu.

Lantaran band metal terus berkembang dan makin banyak, sebagian orang pun 'memelintirnya' sehingga menganut paham seperti itu. ''Ini sebenarnya penjajahan cara baru yang digunakan zionis dan kaum sekuler untuk menjauhkan anak-anak muda dari agama,''ungkap Ombat.

Setidaknya, ini terbukti ketika mereka membuat konser tersebut, tapi justru menuai caci maki. ''Mereka mencaci maki kami yang berusaha mendekatkan kawan-kawan dengan Islam, padahal mereka sendiri Islam. Ini terbukti kalau mereka lebih mengerti metal daripada agamanya sendiri,'' tuturnya.

Akhirnya, setelah dikorelasi dan dipelajari, ia dan kawan-kawan yang tergabung dalam komunitas 'Salam Satu Jari' memutuskan tidak lagi mengangkat dua jari, tetapi satu jari. Bagi Ombat sendiri, makna satu jari lebih kepada ketauhidan. ''Salam satu jari intinya kita selaku umat Muslim selalu ingat akan Allah Yang Maha Esa, laaillaha illallah , bahwa kita hanya membela Islam tidak yang lain,'' ujarnya.

Untuk Andri S, yang memiliki nama panggung Salameh Hamzah, konser musik yang mereka lakukan bisa dibilang dakwah jalur lambat. ''Cara seperti ini tak bisa langsung mengena, tetapi secara bertahap,'' ungkapnya.

Bagi Ombat, hanya dengan cara inilah mereka bisa menyadarkan kaum muda pencinta dunia underground dari segala pengaruh buruk. Bila suara pemuka agama tidak lagi didengar, sudah saatnya mereka sendiri yang harus bergerak. ''Sebenarnya ini strategi perang ideologi dan musik menjadi wadah untuk melawan sekaligus bertahan,'' pungkasnya. ichsan emrald

Senin, 26 Juli 2010

Jihad Melawan Asmara Membara

Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!

Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.

****

Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.

“Jihad…!!!” teriaknya tanpa sadar.

Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”

Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.

Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.

Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).

****

“Jadi… tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.

Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24 jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.

Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’an dan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).

Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah…

Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.


(dari group Yusuf mansur Network)

Sabtu, 17 Juli 2010

Ethical Research Misconduct dalam 'Ilusi Negara Islam'

Seperti sudah takdir, setiap musim PEMILU ada saja isu-isu politis yang dikemas dalam bingkai apolitis, dan terkadang melahirkan kontroversi dan sikap saling tuding. Belakangan, salah satu kontroversi itu muncul dalam bentuk buku yang berjudul Ilusi Negara Islam yang dalam edisi bahasa Inggris tersaji lebih ringkas dengan judul The Illusion of an Islamic State. Buku ini diklaim sebagai hasil dari penelitian LibForAll Foundation, sebuah LSM bentukan C. Holland Taylor bersama Abdurrahman Wahid.

KEPENTINGAN DI BALIK RISET

Buku ini, sekilas, tampak sebagai buah pemikiran yang ilmiah, based on research, akademis dan mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Namun hal itu tidak berlaku bagi orang yang paham metodologi penelitian, khususnya penelitian sosial. Sebenarnya jika melihat covernya saja kita sudah bisa melihat bagian kecil dari kebohongan yang nyata. Bagaimana tidak, di situ tertulis editor buku adalah Abdurrahman Wahid. Padahal, seperti dilansir situs resmi NU (NU-Online, 26/05), Gus Dur sedang terganggu penglihatannya sehingga tidak mungkin melakukan editing.

'Yang Mulia' Kyai Haji Abdurrahman Wahid

▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
Tidak hanya itu, beberapa peneliti dari Yogya (Zuli Qodir, Nurkhalik Ridwan, Abdur Rozaki, dan Laode Arham) merasa keberatan atas pencantuman nama mereka dalam buku ini hingga merilis pernyataan sikap kepada publik pada Jumat (25/06) lalu (DetikNews, 27/05 & RepublikaOnline 26/05). Sebenarnya sebelum proses penelitian itu selesai mereka telah mengundurkan diri sebagai tim peneliti karena saran terkait metode dan mekanisme penelitian tidak digubris pihak LibForAll. Dalam penelitian sosial, peneliti semestinya memiliki independensi dalam menganalisis dan melakukan interpretasi data. Namun kenyataannya tidak. Penelitian terlihat hanya sebagai kamuflase dan legitimasi kepentingan pihak LibForAll dan peneliti merupakan bagian dari propaganda dan rekayasa intelektual. Perspektif LibForAll dalam penelitian ini sangat dominan dan temuan datanya terasa sebagai pengejawantahan stigma yang sudah dibentuk di awal. Nuansa politis sangat kental di mana PKS menjadi hujatan utama dalam buku ini.

RESEARCH METHOD YANG AJAIB
Validitas dan representatifitas tidak terpenuhi dalam penelitian ini. Di awal, buku ini menyebutkan bahwa metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif (dengan in-depth interview). Pendekatan kualitatif biasa digunakan atas dasar pengalaman para peneliti di mana metode ini dapat digunakan untuk menemukan hal yang tersembunyi di balik fenomena yang biasanya merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami. Penelitian kualitatif memang digunakan dalam penelitian terkait aktivitas, perilaku, sejarah, kehidupan masyarakat, dan lain-lain. Metode sampling dalam penelitian ini menggunakan nonprobability (non acak) yang berupa purposive sampling dengan karakteristik respondennya adalah yang memiliki posisi fungsional dalam berbagai lembaga dan organisasi (hal. 51-52). Bisa saja jika metode sampling non acak (nonprobability sampling) digunakan dalam suatu penelitian jika memang populasi tidak bisa diukur dengan tepat, dengan konsekuensi hasil penelitian tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Namun bukankah data dan informasi populasi dalam penelitian ini bisa didapatkan dari data sekunder? Dan anehnya, secara mengejutkan dikatakan bahwa temuan dari penelitian ini (bukan dari data sekunder) menunjukkan 60% dosen di UMS adalah PKS (hal. 211). Sejak kapan penelitian kualitatif yang menggunakan nonprobability sampling bisa menghasilkan data numerik (statistis) yang menggambarkan populasi?

C. Holland Taylor
Ketua & CEO LibForAll
Sementara disebutkan dalam sub bab Metode Studi, bahwa responden adalah para aktivis atau individu yang telah terpengaruh 'gerakan garis keras' (hal. 49). Padahal universe (populasi) dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman, terutama dalam hal ini adalah keanekaragaman pemahaman. Jika ingin hasil penelitian bisa dijadikan sebagai ukuran untuk mengestimasikan (menggeneralisasi), seharusnya sampel yang diambil dapat mewakili berbagai karakteristik yang beragam yang ada di populasi (representatif).

BIAS OBJEK

Dalam penelitian ini konsep utama yang dibahas yaitu ‘Gerakan garis keras’ dan ‘Ahlussunnah wal Jamaah’ (yang diidentifikasi dalam ‘Islam Moderat’) tidak diperjelas, sehingga justifikasinya bisa jadi bias dan patut diragukan. Selain itu juga harus dijelaskan dahulu apa, bagaimana dan wujud dari gerakan garis keras dan Islam moderat sebagai variable (bukan langsung tunjuk pada pihak tertentu) untuk menentukan indikator yang akan dinilai sebelum melakukan kategorisasi terhadap berbagai golongan, ormas dan parpol yang menjadi objek penelitian.

Begitu juga dengan frame, dalam hal yang debatable, frame atau kaca mata sebagai titik temu dan kejelasan batasan harus ditentukan agar tidak terjadi kesalahan persepsi. Analoginya, dua pihak yang berdiskusi tentang harga BBM harus mengerti apa yang dimaksud BBM sejak sebelum memulai diskusi. Buku ini menceritakan sejarah Wahabi (hal. 62-69). Namun itu adalah masa lalu dan untuk identifikasi mestinya dijelaskan juga bagaimana bentuk Wahabi dalam koridor kekinian dan bukan terfokus pada karakternya saja, karena Wahabi adalah golongan yang terdiri dari manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia memiliki sifat unik dan unpredictable yang antara satu dengan yang lain memiliki perbedaan dan persamaan. Akibat dari oversimplifying ini, konklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi dengan menyamakan antara Wahabi, Salafi, DDII, MMI, FPI, PKS (tarbiyah) dan HTI ke dalam satu golongan yang disebut ‘agen-agen garis keras’. Jadi tidak salah analogi Sapto Waluyo –MPP PKS– penyusun seperti tidak bisa membedakan sapi dengan kerbau.

MENAFIKKAN ASPEK HISTORIS

Penyusun buku menyebut ‘para agen-agen garis keras’ membawa ideologi transnasional. Dan lagi-lagi, tidak ada definisi lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan ideologi transnasional. Jika yang dimaksud dengan ideologi transnasional pengertiannya sama dalam tulisan Hasyim Muzadi di tahun 2007 yang berjudul ‘Bangsa dan Ideologi Transnasional’ yaitu ideologi dari luar yang dapat mempengaruhi atau merubah ideologi asli di negara ini, maka secara tidak langsung penyusun telah menafikkan aspek historis dalam penulisan buku ini. Terinfiltrasinya seni kebudayaan, bahasa, dan pemikiran yang ada di Indonesia tidak dapat terelakkan. Dan dalam kaitannya dengan buku ini, masuknya Islam ke Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari sifat ‘transnasional’ Islam itu sendiri. Agama-agama yang diakui di Indonesia semuanya berasal dari ‘importisasi’. Semua agama di Indonesia adalah transnasional, jadi bukan kelompok atau manhaj tertentu saja.

Gus Dur dalam pengantarnya mengatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), namun apakah pantas jika transnasionalisasi Islam maupun aliran pemikiran di dalamnya dipertentangkan sedangkan transnasionalisasi ideologi marxisisme, hedonisme, esensialisme, sophisme, seksisme, pluralisme, nasionalisme sekuler, liberalisme, sosialisme bahkan hedonisme tidak dipermasalahkan oleh penyusun buku ini? Padahal bagi penyusun yang mengaku mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia, ideologi-ideologi transnasional tersebut tentunya juga bersifat destruktif (di samping kelebihan dari masing-masing ideologi). Jika memang fokus pada transnasionalisasi ideologi agama sebagai alasan, setidaknya dalam bab pengantar disinggung juga ideologi-ideologi destruktif tersebut sebagai perbandingan maupun sekedar wacana.

Penyusun mengklaim NU sebagai indigenous Islam (hal. 197) dan mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia terancam oleh ‘para agen garis keras’ yang membawa kebudayaan Arab. Kenyataannya, nahdhiyyin (sebutan untuk warga NU) dalam kesehariannya juga sering mengenakan pakaian dan atribut kearab-araban seperti salafi. Selain itu kitab-kitab NU masih menggunakan bahasa dan tulisan Arab yang disebut ‘kitab kuning’ dan menjadi standart di seluruh pondok pesantren NU, dan itu bukan karya kyai-kyai Indonesia. Berbeda dengan kitab-kitab tarbiyah, yang meskipun sama-sama ‘diimport’, sudah banyak yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasyid-nasyid nahdhiyyin juga kebanyakan tampil dalam bahasa Arab.

Gus Mus
Penasehat LibForAll
Berulang kali buku ini menyebut bahwa PKS yang berhaluan tarbiyah adalah golongan Wahabi. Sementara Wahabi didefinisikan secara abstrak, yaitu kelompok yang ekstrem, kaku dan keras (hal. 63) serta suka memvonis kelompok lain (hal. 72). Dalam buku ‘Fiqih Prioritas’, salah satu karya Yusuf Al-Qardhawi yang menjadi guide gerakan tarbiyah, umat dihimbau untuk tidak terpecah dan saling tuding kesesatan karena hal khilafiyyah (debatable dalam hal yang sama-sama memiliki dasar yang shahih). Namun sikap toleran tersebut, yang di buku ini dicontohkan dalam hal perbedaan hari raya, dipandang sebagai ‘sikap mendua’ (hal. 180) dan bagi penyusun buku ini, 'agen-agen garis keras' memiliki pemahaman Islam yang dangkal (hal. 204). Jika yang dimaksud dengan garis keras adalah kelompok ekstrem yang suka memvonis, maka justru penyusun buku ini seperti menunjuk pada diri sendiri karena dengan mudahnya menggolongkan kelompok lain yang berbeda pandangan (seperti yang disebutkan di buku yaitu Wahabi, Salafi, DDII, MMI, FPI, PKS, HTI dan lain-lain) sebagai 'agen-agen garis keras' dan merasa muslim Indonesia adalah ‘hak milik’ NU dan Muhammadiyah dengan alasan mereka sudah lama eksis dan dominan (hal. 43). Dan secara eksplisit, penyusun mengaku sebagai bagian dari golongan Ahlussunnah wal Jamaah yaitu golongan yang dijanjikan Rasulullah sebagai satu-satunya golongan yang benar. Di samping itu penyusun seolah melupakan sejarah dan latar belakang didirikannya NU, yaitu sebagai counter atas gerakan Muhammadiyah. Dan pada perkembangannya, NU dan Muhammadiyah sering berselisih seperti dalam hal jumlah rakaat tarawih, doa qunut sholat shubuh, adzan sebelum khutbah Jumat, dan lain-lain. Hanya saja mungkin karena merasa ada rival baru yang ‘menggerogoti’ kader-kader kedua ormas ini maka beberapa orang NU dan Muhammadiyah bersatu dalam pembuatan buku ini untuk misi yang sama, namun yang paling penting untuk diketahui adalah mereka bukan representasi dari NU dan Muhammadiyah sendiri.

Penggolongan tarbiyah dengan salafi sesungguhnya juga naif, karena tarbiyah sering menjadi ‘target koreksi’ salafi dalam pandangan-pandangan tertentu. Bukti otentik yang tertoreh dalam sejarah seperti terbitnya buku salafi berjudul “Kesalahan-kesalahan Yusuf Qardhawi” yang isinya tentang ketidaksepahaman terhadap pandangan Yusuf Al-Qardhawi (sebagai representasi dari tarbiyah), di antaranya mengajak umat Islam untuk bermawaddah (berkasih sayang) dengan Yahudi dan Nasrani; berupaya mendekatkan kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka (Yahudi dan Nasrani); menghormati tempat ibadah orang-orang kafir; mengkampanyekan perdamaian dunia; membolehkan nyanyian dan mendengarkan lagu-lagu; menyaksikan film sinetron di televisi dan video.

KESESATAN RELEVANSI ATAS KOMPOSISI SERTA IGNORATIO ELENCHI

Ahmad Dhani, Salah Satu
Pengurus LibForAll
Keilmiahan buku ini juga diragukan karena kesesatan relevansi yang memandang bahwa apa yang dilakukan individu atau beberapa individu dalam kelompok tertentu pasti juga dilakukan seluruh anggota kelompok. KAMMI berkali-kali disebut sebagai sayap (underbouw) PKS, padahal KAMMI tidak pernah menyatakan bahwa ada hubungan struktural dan kelembagaan dengan PKS. Selain itu beberapa kebijakan KAMMI tidak selalu sama dengan kebijakan PKS. Kalaupun banyak jebolan KAMMI yang masuk ke PKS, itu karena pilihan pribadi yang disebabkan kesamaan manhaj, yaitu tarbiyah, bukan kebijakan organisasi. Sebagaimana PMII yang disebut buku ini (hal. 212) merupakan underbouw dari NU, bukan PKB, PKNU maupun PPNUI. Pandangan bahwa KAMMI adalah underbouw dari PKS tidak lebih karena partai politik yang bermanhaj tarbiyah hanya satu, PKS. Tidak seperti partai yang berafiliasi dan berbasis NU yang jumlahnya lebih dari satu. Justifikasi bahwa jebolan KAMMI pasti PKS juga tidak bisa dibuktikan secara statistis maupun secara interview kualitatif. Hal ini sekaligus menunjukkan kesesatan ignoratio elenchi (kesimpulan yang tidak relevan dengan premis karena prasangka dan subjektifitas).

Dan lagi, LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang kebanyakan berhaluan tarbiyah dinyatakan sebagai indikasi masuknya Wahabi dan dituding memiliki keterlibatan dalam rantai pengkaderan PKS. LDK memang banyak (tidak semua) yang hadir dalam kemasan tarbiyah. Salah satu penyebabnya karena kesesuaiannya dengan sistem yang ada di kampus, dengan metode mentoring yang diadopsi dari tarbiyah memiliki panduan yang jelas berdasarkan tahap dan tingkatan keilmuan mahasiswa. Dengan kelompok-kelompok kecil ini (mentoring), bukan dalam kajian massa, memudahkan proses pembinaan baik dari segi efisiensi waktu, biaya maupun human resources (SDM). Namun sekali lagi, penyusun belum berhasil menunjukkan bahwa tarbiyah adalah gerakan transnasional yang berbahaya.

Ignoratio elenchi lain terlihat ketika penyusun buku ini berusaha menghubungkan Wahabi dengan Indonesia. Diceritakan dengan jelas mengenai sejarah dan latar belakang yang berakhir pada sikap kelompok Wahabi di masa lalu, kemudian penyusun melihat kondisi di Indonesia yang mirip dengan itu sehingga menarik kesimpulan bahwa Wahabi telah masuk ke Indonesia (hal. 62-70). Selain itu, dalam bab IV, disebutkan adanya indikasi fenomena golongan muslim yang suka mengkafirkan, dan tiba-tiba saja langsung disebut bahwa itu adalah indikasi atas masuknya golongan Wahabi tanpa ada korelasi yang jelas. Padahal, tanpa mengikuti Wahabi pun, orang bisa saja saling mengkafirkan.

ARGUMENTUM AD BACULUM

Dalam bab III, penyusun yang mencitrakan diri sebagai bagian dari golongan muslim moderat memandang PKS sama dengan HTI yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Padahal dalam bab sebelumnya penyusun menyebut PKS lahir dari gerakan tarbiyah yang menganut gerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Suatu hal yang sangat kontradiktif melihat kenyataan bahwa Yusuf Al-Qardhawi, tokoh IM yang sangat berpengaruh, mengatakan bahwa konsep negara dalam Islam bukanlah negara teokrat. Tidak diperlukan terbentuknya khilafah jika dengan demokrasi sebuah negara dapat menjamin kesejahteraan yang terintegrasi dengan nilai-nilai ketuhanan yang diturunkan dalam moral value. Tidak salah jika PKS yang hadir dalam format parpol sangat pro dengan demokrasi, bahkan terlibat di dalamnya. Inilah salah satu perbedaannya dengan HTI yang sama sekali anti dengan sistem demokrasi. Dalam platform PKS sendiri, disebutkan bahwa PKS tidak bertujuan membentuk ‘Negara Islam’ atau semacamnya, melainkan terbentuknya masyarakat madani (religious-based civil society) yaitu masyarakat berperadaban yang berbasis pada nilai-nilai religius. Jadi jelas, PKS akan tetap menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan asaz yang kemudian diintegrasikan dengan religious values sebagai paradigma. Namun konklusi dalam buku ini mengatakan sikap dan tindakan PKS hanya strategi dengan tujuan yang sama (hal. 63-164). Kalaupun demikian mestinya ditunjukkan bukti-bukti yang nyata, rasional dan relevan, bukannya premis yang tidak menunjukkan korelasi yang nyata. Nampak sekali ‘argumentum ad baculum’, yakni pemaksaan konklusi dengan pesan yang jika ditolak akan menyebabkan hal yang tidak diinginkan, yaitu PKS adalah garis keras, jika diterima maka ideologi negara terancam.

Kemudian HTI juga berulang kali dikatakan sebagai gerakan yang ingin mengganti ideologi Pancasila, dan itu harus dicegah. Sedangkan menurut penyusun, NU telah menganggap Pancasila dan UUD 1945 sebagai konsensus nasional yang sudah final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (hal. 197). Sementara jika kita baca lebih teliti, lampiran 2 yang berjudul 'Dokumen Penolakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap Ideologi dan Gerakan Ekstremis Transnasional' yang bersumber dari Bahtsul Masa'il NU, menyatakan bahwa merubah hukum negara tidak diperbolehkan jika menggunakan cara yang inkonstitusional dan diperbolehkan jika menggunakan cara yang konstitusional (hal. 253). Sebuah kontradiksi-hipokrit yang nyata bukan?

STRATEGI MARKETING

Pihak penerbit sepertinya sengaja menghembuskan isu intimidatif ke publik. Ahmad Suaedy, Direktur the Wahid Institute, mengatakan bahwa toko-toko yang menjual buku ini diteror melalui telepon gelap. Namun tidak ada bukti yang bisa menunjukkan bahwa ada ancaman kepada toko buku. Bahkan pihak yang dituding, yaitu Kompas Gramedia dan Gunung Agung telah membantah adanya teror (DetikNews, 22/05 & TempoInteraktif, 19/05) dan pihaknya malah mengaku baru tahu informasi tentang buku itu. Mungkin ini sebagai alasan yang direkayasa agar tidak ada yang bertanya, mengapa buku ini disebarluaskan melalui internet secara gratis. Di samping itu terkait pencantuman beberapa nama peneliti Jogya yang telah mengundurkan diri dari penelitian sepertinya berhasil membuat masyarakat penasaran dengan buku ini. Terbukti dengan pengakuan Ahmad Suaedy bahwa pemesanan buku ini mengalami peningkatan (DetikNews, 27/05).

KONKLUSI: ATAS NAMA RISET, PENCEMARAN DUNIA RISET

‘Karya’ yang diakui sebagai hasil penelitian selama dua tahun ini justru bersifat argumentum ad populum (bersifat membakar emosi dengan alasan bahwa gagasan yang diusung adalah untuk kepentingan bersama) dan argumentum ad baculum (argumen yang konklusinya dipaksakan) ini sangat kental dengan berbagai argumen yang tidak membuktikan hubungan logis antara premis dan konklusi serta metodologi yang kacau. Dalam riset dan investigasi, jika metodenya saja salah maka hasil yang dihasilkan patut dipertanyakan. Tidak heran jika pihak-pihak yang diserang enggan bereaksi karena sesungguhnya konten buku ini telah dibantah oleh isi dan kemasannya sendiri.

Retorika provokatif memang berfungsi menarik perhatian pembaca, namun jika sifatnya tendensius, judgmental dan sided justru memunculkan fenomena kemunafikan yang implisit dengan melakukan hal yang sama dengan hal yang dikritik, yaitu merasa diri paling benar dan pihak lain yang tidak sepaham sebagai pihak yang menyimpang, padahal hampir di setiap bagian di buku ini, penyusun mengaku sebagai pihak yang menjunjung toleransi.




▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
Referensi berita:
NU Online: Buku 'Ilusi Negara Islam' Dinilai Mengadu Domba Umat
DetikNews: Dicatut, Dosen UIN Yogyakarta Gugat 'Ilusi Negara Islam'
Republika Online: Pernyataan Sikap atas Buku Ilusi Negara Islam
DetikNews: Toko Buku Bantah Terima Teror
Tempo Interaktif: 'Ilusi Negara Islam' Diperdebatkan, Gramedia Bantah Diancam
DetikNews: Penerbit 'Ilusi Negara Islam' Cuek Soal Gugatan Peneliti

▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
Oleh : Saiful Khaliq S.
- Mahasiswa Dept. Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya.
- Humas FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) 2007-2009
- Ketua IPNU PC AlWachid SMA N 1 Kudus 2005-2006

ingat saudaraku!!!!

Barang siapa yang memelihara ketaatan

Kepada ALLAH di masa muda dan masa kuatnya,

maka ALLAH akan memelihara kekuatannya

disaat tua dan saat kekuatannya melemah.

Ia akan tetap di beri kekuatan, pendengaran,

penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal.

(ibnu Rajab Al-Hambali)


idza shadaqa al 'azamu wadla'a al sabil

Hanya orang yang mau berfikirlah yang meghargai kita, menghargai arti penting dawah. Aku ingat dalam catatan harian Soe Hok Gie ia pernah menuliskan

(Don’t think you can frighten me by telling me that I am alone. God is alone……….
the loneliness of God is his strength…)


Icetea Ghizha
Icetea Ghizha
Create Your Badge

BELAHAN JIWAKU

BELAHAN JIWAKU
saudara seperjuangan di SKI FISIP UNAIR tercinta