Selasa, 13 Juli 2010

Cintaku padaMu menghantarkan ku pada Taubat

Di antara konsekuensi orang yg percaya dan bertauhid kepada Allah Ta’ala adl senantiasa melakukan muhasabah atas berbagai kelalaiannya dalam memenuhi hak-hak Allah. Ia hendaknya selalu mengingat yaumal hisab terus memperbanyak bekal sehingga tidak termasuk orang yg menyesal dan merugi pada hari yg penyesalan tiada berguna lagi.

Muhasabah ini hendaknya didasar-kan pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah krn keduanya itulah hakim yg adil dan timbangan yg jujur. Barang siapa meninggalkan keduanya maka akan tersesat sebaliknya bagi yg berpegang teguh dengannya berarti ia telah mendapat petunjuk Allah. Muhasabah yg benar adl mu-hasabah yg diikuti dgn berserah diri dan bertaubat kepada Allah semata.

Taubat adl permulaan amal shaleh. Setiap kali seseorang mendekat-kan diri kepada Allah hendaknya selalu disertai taubat kepadaNya. Sebab seorang mukmin adl orang yg senantiasa merasa lalai meskipun ia sesungguhnya telah mencapai derajat ahli ibadah. Allah menjadikan taubat sebagai sebab kemenangan. “Dan bertaubatlah kalian kepada Allah hai orang-orang yg beriman supaya kamu beruntung.” Barangkali rahasia ditujukannya seruan taubat -dalam ayat di atas- kepada orang-orang beriman adl utk memberikan pemahaman bahwa taubat itu tak saja krn dosa yg dilakukan tetapi juga krn perasaan lalai dan lengah dalam memenuhi hak-hak Allah. Semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya ia akan semakin mengetahui kelengahan dan kelalaian dirinya.

Disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sedang beliau adl hamba yg paling dekat kepada Allah- “Wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohon ampunlah kepadaNya sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.”

Padahal Allah Ta’ala melindungi beliau dari segala dosa dan menjaganya dari kelalaian tetapi pengetahuan beliau akan hak-hak Allah menjadikan beliau merasa masih saja lalai dalam memenuhi hak-hak Allah. Disinilah di antara rahasia firman Allah “Sesungguhnya yg takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.”

Karena itu dalam banyak ayat Allah Ta’ala memerintahkan kita supaya cepat bertaubat demikian pula anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam banyak haditsnya sehingga kita tergolong orang yg berlomba-lomba dalam mendapatkan kebaikan dan tidak termasuk orang-orang yg lengah. “Hai orang-orang yg beriman bertaubatlah kepada Allah dgn taubat yg semurni-murninya mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasuk-kan kamu ke dalam surga yg mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yg beriman yg bersama dgn dia sesungguhnya cahaya mereka memancar di hadapan dan sebelah kanan mereka sambil mereka mengatakan “Ya Tuhan kami sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

“Dan barangsiapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yg zhalim.” Orang yg tidak bertaubat kepada Rabbnya adl orang yg menganiaya diri sendiri krn ia tidak mengetahui Rabbnya tidak memahami hak-hakNya padahal betapa besar hak-hak Allah atas dirinya. Taubat dianjurkan dalam tiap saat. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tanganNya pada malam hari agar pendosa di siang hari bertaubat dan membentangkannya pada siang hari agar pendosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari arah barat.” . Dalam hadits lain disebutkan “Sesungguhnya Allah Ta’ala menerima taubat hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.”

Jika taubat krn merasa lengah dan lalai -dalam hak Allah- adl wajib atas manusia maka taubat krn dosa tentu hukumnya lbh wajib. Jika yg pertama mengakibatkan derajat kemuli-aannya berkurang maka yg kedua mengakibatkannya berada pada derajat yg terendah. Sungguh amat jauh perbedaan antara orang yg meminta tambahan ni’mat dgn orang yg ingin bebas dari neraka Jahim.

Taubat kepada Allah Ta’ala tidak membutuhkan perantara sehingga ia dikabulkan juga tidak memerlukan pengakuan dosa di hadapan salah seorang manusia. Tiada lain yg mesti dilakukan oleh orang yg bertaubat kecuali ia harus memohon ampun langsung kepada Allah. Dan sungguh Allah lbh gembira dgn taubat hambaNya melebihi kegembiraan seorang ibu yg menemukan kembali anaknya yg hilang setelah putus asa mencarinya. “Sungguh Allah lbh gembira dgn taubat hambaNya daripada seorang darikamu yg menemukan kembali ontanya sedang ia telah kehilangan daripadanya di gurun tandus.”

“Demi Dzat yg jiwaku ada di tanganNya seandainya kalian tidak melakukan dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan tentu akan mendatangkan suatu kaum yg melakukan dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah sehingga Allah mengampuni mereka.”

Sungguh salah besar orang yg mengira bahwa taubat harus dgn pengakuan di hadapan seorang syaikh sehingga bisa diterima. Pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yg menginginkan taubat selama ruhnya masih belum sampai ke tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat. Allah berfirman “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yg mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yg kemudian mereka bertaubat dgn segera maka mereka itulah yg diterima Allah taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yg mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka ia mengatakan “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak orang-orang yg mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yg pedih.”

“Tidaklah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Penyayang.” Sebagian orang berlebih-lebihan dalam melakukan ziarah ke kubur Nabi. Mereka memohon agar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta-kan ampun utk mereka seperti ketika beliau masih hidup. Mereka mendasar-kan perbuatan tersebut kepada ayat “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohon-kan ampun utk mereka tentulah mereka mendapatai Allah Maha Pene-rima taubat lagi Maha Penyayang.”

Sungguh jauh berbeda antara orang yg datang kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau masih hidup dgn orang yg datang setelah beliau wafat dan berada di kuburnya. Benar dan tidak diragukan lagi bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hidup dalam kuburnya tetapi kehidupan itu tidak seperti kehidupan beliau di dunia. Tidak ada yg mengetahui hakekat kehidupan itu selaih Allah Ta’ala. Allah berfirman kepada NabiNya “Sesungguhnya engkau akan mati dan mereka akan mati “. Bahkan hingga orang yg datang kepada Nabi -saat beliau masih hidup- agar dimintakan ampun kepada Allah tetapi memang tidak berhak mendapat ampunan Allah nisaya Allah tidak akan mengampuni dirinya. Allah berfiman kepada RasulNya “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu memohonkan ampun bagi mereka . Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.”

Permohonan ampun dan do’a orang hidup utk orang hidup lainnya adl dibolehkan dan dianjurkan. Bahkan Allah memerintahkan agar orang-orang beriman mendo’akan orang-orang yg lbh dahulu beriman. Allah berfiman “Dan orang-orang yg datang sesudah mereka mereka berdo’a “Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan para saudara kami yg telah beriman lbh dahulu dari kami.” . Dalam tafsir ayat “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampun utk mereka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Salah seorang ulama berkata Allah Maha Penerima Taubat dalam tiap saat bagi siapa saja yg bertaubat. Allah Maha Penyayang dalam tiap saat bagi siapa yg mau kembali .. Orang-orang yg mendapatkan turunnya ayat ini mereka mempunyai kesempatan utk dimohonkan ampun oleh Rasulullah tetapi masa itu kini telah lama berakhir tinggallah pintu Allah yg senantiasa terbuka dan tak pernah dikunci. Sedang janji Allah tetap tegak dan tiada pernah batal. Karena itu barangsiapa yg ingin maka hendaknya segera bertaubat.

Semakin rahasia taubat dilakukan semakin lbh berpeluang utk dikabulkan dan semakin jauh pula dari sifat riya’ yg sering menyelimuti amal manusia. Dalam hadits shahih tentang tujuh orang yg diberi perlindungan pada hari kiamat di antaranya disebutkan “ .. dan orang yg selalu meng-ingat Allah di kesepian sehingga air matanya mengalir.”

Dalam Al Qur’an disebutkan beberapa sifat orang bertaqwa yg kelak pada hari kiamat akan tinggal di surga di antaranya “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun ” . Sebab pada waktu-waktu akhir malam adl waktu munajat dan khalwat antara hamba dgn Rabbnya. Waktu yg tiap kali Allah turun ke langit bumi seraya berfirman “Adakah orang yg bertaubat sehingga Aku menerima taubatnya? adakah orang yg memohon ampun sehingga Aku mengampuninya? adakah orang yg meminta sehingga Aku memberinya? hingga terbit fajar.”

Disadur dari Majalah At Tauhid As Syaikh Abdul Latif Muhammad Badr

AGAR DUNIA TAU KENAPA AKU dan Teman-Teman mengambil ANTROPOLOGI

WAKTU istirahat saat makan siang dalam sebuah seminar, sambil minum kopi di luar ruang, saya iseng tanya kepada
seorang mahasiswa peserta, "Apa tujuan adik belajar antropologi?" "Nanti kalau tamat, saya kepingin jadi guide,"
jawabnya dengan polos. "Turis-turis itu kan bayar mahal untuk melihat kebudayaan kita dan mereka butuh penjelasan
tentang obyek-obyek yang mereka kunjungi."



Saya sangat terkesima mendengar jawaban si mahasiswa. Sebelumnya ada dugaan terlintas, dia pasti ingin jadi
pengajar, peneliti, aktivis, atau mungkin juga konsultan. Jawabannya menggelikan, tetapi siapa tega menertawakan?
Bagaimanapun, cita-citanya bisa memberi suatu jalan keluar yang baik di tengah-tengah barisan sarjana penganggur di
Indonesia.

Tujuan mahasiswa yang menggelitik itu memang tidak bisa dilecehkan begitu saja atau dilupakan sebagai pendapat
"orang yang belum mengerti" apa itu antropologi. Sebaliknya, pendapat semacam ini, senaif apa pun, harus dilihat
sebagai cermin keterkaitan ilmu, kekuasaan, dan ketidakadilan.

Di Indonesia ilmu modern sangat terkait dengan "nilai guna". Di bawah rezim pembangunan, ruang untuk berfilsafat
sangat sempit. Kalau pengetahuan tidak punya aplikasi langsung, dianggap tidak penting, malahan membingungkan atau
membahayakan masyarakat yang seharusnya "berpembangunan-ria". Kewarganegaraan seseorang didefinisikan dengan
penilaian sejauh mana intelektualitas, maupun subyektivitas, bisa ditujukan pada pengabdian negara dan modal.
Demikian pula status antropologi yang berfungsi sebagai abdi-dalem pemerintah dan jarang memberi kesempatan
kepada pemikir tandingan.

Namun, kecenderungan antropologi di Indonesia mendukungi status quo tidak bisa dibebankan hanya pada dosa Orde
Baru. Asal-usul antropologi, di Barat maupun di Indonesia, terkait intim dengan sejarah kolonialisme. Para pejabat
kompeni pada zaman dulu wajib menulis laporan bukan hanya tentang daerah yang akan diambil atau sumber daya alam
yang akan dieksploitasi, tetapi tentang karakter masyarakat yang sedang dijajah.

Catatan semacam ini diberi nama etnologi, menawarkan penggambaran watak khas suatu masyarakat. Informasi ini
digunakan untuk mempermudah penguasaan kaum pribumi. Antropologi menjadi sebuah teknologi utama guna
menjalankan kontrol sosial serta memungkinkan pola penjajahan dengan sistem indirect rule: penundukan dilaksanakan
melalui institusi lokal dan pemimpin setempat dengan kodifikasi hegemoni lokal atas nama adat.

Penekanan pada katalog perbedaan budaya memunculkan apa yang pernah diidentifikasikan oleh kritikus sastra, Homi
Bhabha, sebagai paradoks kolonialisme: yang dijajah disuruh menjadi white but not quite, atau diajak berpartisipasi
dalam struktur penjajahan lewat perbedaan mereka. Dari satu sisi, keaslian masyarakat dianggap, menurut "kebijakan
etis" Belanda, sebagai sesuatu yang harus dijaga untuk mencegah yang lemah dari pencemaran gelombang "baratisasi".
Tetapi, dari sisi lain, sistem ketidakadilan sosial diperkuat dengan melestarikan kelemahan tersebut. Dengan
mengklasifikasikan dan memelihara diferensiasi budaya, antropologi Belanda bukan hanya mengizinkan kolonialisme
berfungsi, tetapi menyelimuti kekuasaan dalam bungkus yang indah, moral dan ilmiah.

Setelah Pemerintah Belanda angkat kaki dari Tanah Air, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan lalu menyandang
status sebagai negara yang sedang berkembang. Namun, antropologi masih terus dibayangkan sebagai ilmu yang bisa
digunakan merapatkan kontrol sosial daripada ilmu yang benar-benar untuk pembebasan.

Melalui tangan Koentjaraningrat, salah seorang pendekar ilmu kebudayaan Indonesia, antropologi Indonesia menjadi alat
penting untuk proyek nasionalisme. Praktik-praktik kultural yang sangat variatif dilihat menurut sebuah skala implisit yang
mengukur sejauh mana kehidupan seseorang cocok dengan sebuah "kultur nasional" yang ideal.

Antropologi diberi tugas menggali "mentalitas budaya Indonesia" yang akan dijadikan modal sosial untuk menyokong
pembangunan. Mahasiswa antropologi dikirim ke daerah-daerah "terpencil" untuk meneliti perilaku menabung, pola
makan, sikap terhadap kebersihan, urusan mengisi waktu luang, nilai anak, budaya berlalu lintas, sampai pada konsep
sehat dan sakit-informasi yang bisa dipakai untuk "memerdayakan" yang "belum berbudaya". Sedangkan di pusat
kekuasaan nasional di Jawa dan Bali, antropolog-antropolog dikerahkan mengumpulkan informasi tentang
"puncak-puncak kebudayaan" daerah yang mampu mempromosikan keberadaban Indonesia.

Meskipun antropologi di Barat dan antropologi di Indonesia lahir dari colonial encounter yang sama, di zaman
pascakolonial mereka mengikuti jalur yang sangat berbeda. Di negara-negara Barat, dewasa ini antropologi, di antara
semua cabang ilmu sosial, mungkin mempunyai status sosial yang paling marginal. Di antara semua ilmuwan sosial,
antropolog rata-rata digaji paling rendah, sama dengan para "ahli marginalitas" lain di jurusan kajian perempuan, studi
Afrika-Amerika, atau pusat kajian lesbian dan gay.

Antropologi sering dianggap sebagai disiplin yang "kurang ilmiah" sebab memakai metode berbicara langsung dengan
masyarakat, dan memberi perhatian terhadap orang yang "tidak penting" di dunia ketiga atau kelompok pinggir dunia
pertama. Status antropologi adalah cermin dari dekatnya cabang ilmu ini dengan mereka yang terpinggirkan akibat
ketimpangan struktural yang terjadi pada masyarakat industri-kapitalis dengan aneka ragam masalah, seperti
diskriminasi ras, ketaksetaraan gender, dan kemiskinan. Keakraban sang antropolog dengan kehidupan ghetto di
perkotaan, pecandu minuman keras, penyalah guna narkoba, siasat hidup buruh, korban HIV, para migran, penghuni panti
jompo, dan pengemis telantar menggeser kedudukan pengetahuan ini semakin ke "garis tepi".

Namun, di Indonesia, antropologi menempati posisi ganda. Meskipun antropologi dihargai sebagai ilmu yang berguna
untuk "pencerahan", sebagian besar antropolog Indonesia melakoni hidup prihatin sebagai dosen atau pengajar dengan
gaji yang serba pas- pasan dibandingkan dengan para ahli kedokteran atau ilmu politik-atau tentu saja politisi. Salah
seorang teman dosen perguruan tinggi dengan tiga orang anak, ditambah tuntunan kredit rumah dan biaya SPP,
mengakui dengan jujur bahwa jangankan mengajar, membaca buku kuliah saja tidak sempat karena sibuk mencari uang
tambahan sebagai calo jual-beli mobil.

Dengan kesal dia mengeluh, "Karena masalah keuangan, beli buku anak- anak saya prioritaskan lebih dulu daripada beli
publikasi baru." Antropolog-antropolog di dunia universitas juga menghadapi fasilitas minim dan ketiadaan perpustakaan
yang memadai sebagai denyut jantung kehidupan universitas. Di sinilah salah satu dilema antropologi di Indonesia:
punya posisi hegemonis karena memainkan peranan sentral dalam pembangunan sebagai peracik resep modernitas,
tetapi dari sisi lain dianggap marginal karena bergumal dengan subkultur kehidupan mereka yang tak beruntung.

Dengan pendidikan dan harga diri yang begitu tinggi, banyak antropolog Indonesia sangat gampang ditarik dari kampus
untuk mengabdi pada kapital. Begitu Pemerintah Indonesia berkeinginan menarik modal asing, antropolog menaruh
minat pada jasa komersial. Mereka mengambil proyek penelitian yang disponsori oleh sektor swasta seperti perbankan,
perusahan detergen, jaringan waralaba pramusaji, industri farmasi, maupun biro iklan yang ingin mengerti bagaimana
menjual mi instan kepada suku-suku Papua yang lebih suka ketela dan sagu, atau bagaimana memasyarakatkan
kondom, IUD, padi unggul, dan pupuk kimia.

Di Bali, antropologi juga bisa diuangkan lewat industri pariwisata. Kalau di zaman kolonial orang asing datang ke Bali
untuk transaksi rempah-rempah dan budak, di zaman modern mereka datang membeli komoditas yang disebut
kebudayaan dan para antropolog bisa berfungsi sebagai juragannya. Di Bali, untuk menyambut kedatangan sang
pembawa devisa, berjamurlah sekolah pariwisata maupun perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum "kebudayaan"
yang dibidani oleh insan-insan akademis. Di sinilah terletak benang kusut diskursif antara pengetahuan, takhta, dan uang.

Penjajahan teori

Keterkaitan antropologi di Indonesia dengan ideologi nasionalisme dan perjalanan kapitalisme global berpengaruh besar
terhadap teori sosial yang berkembang di antara para ilmuwan lokal. Di Indonesia, dunia perguruan tinggi memang kental
dengan iklim konservatisme, salah satu warisan yang terburuk dari rezim Orde Baru. Pembantaian 1965 menghapus
ribuan pemikir kritis dari peta intelektual Indonesia, diikuti oleh program normalisasi kehidupan kampus yang bertujuan
mensterilkan universitas dari ingar-bingar kehidupan politik.

Hubungan dunia akademik dan kekuasaan negara diresmikan lewat kebijakan bahwa semua dosen harus memunyai
surat "bersih lingkungan" dan membuktikan kesetiaan mereka terhadap Pancasila dan P4. Kebanyakan posisi berkuasa
di universitas-universitas di Indonesia masih ditempati oleh generasi pemikir yang bersedia berkompromi dengan syarat
yang telah ditentukan.

Konservatisme teori juga diwarisi oleh rezim penjajahan. Sampai sekarang antropologi di Indonesia masih dipengaruhi
oleh pemikiran kuno Belanda yang berusaha mencari struktur sosial dasar atau structural core di mana semua
masyarakat Indonesia dibayangkan mempunyai persamaan dalil regularitas. Beberapa antropolog Indonesia saat ini
masih sibuk mencari model klasifikasi dualisme, perputaran emas kawin dan persekutuan antarklan dan sistem
kekerabatan yang "selesai" dan abadi daripada melihat perubahan sosial yang terjadi di depan mata mereka.

Orientasi teoretis yang lamban ini mempersulit antropologi melihat masalah genting yang dihadapi masyarakat sekarang.
Seorang mahasiswa yang cukup cerdas pernah bertutur, bagaimana suatu hari dia dibentak oleh sang dosen ketika
mengajukan proposal penelitian skripsinya tentang "politik ritual kekerasan 1965". Rancangan idenya ditolak
mentah-mentah karena dianggap oleh bapak mahaguru tidak sesuai dengan bidang kajian antropologi. "Kekerasan itu
urusan ilmu politik, bukan antropologi," kata sang pembimbing dengan singkat dan gamblang.

Sikap ini mungkin bisa dipahami sebagai internalisasi ketakutan: di negara yang begitu opresif, ilmuwan sosial dilarang
turun ke lapangan untuk meneliti dan mencari dalang "ekonomi kekerasan." Namun, ini mungkin juga bisa dilihat sebagai
operasi kekuasaan yang jauh lebih berbahaya daripada represi: semacam productive power, meminjam kata dari
Foucault, yang bekerja lewat pemikiran orang.

Di Indonesia, kebudayaan dan kekerasan dibayangkan menempati dua ruang yang terpisah, yang tidak berhubungan
sama sekali. Kebudayaan dilihat secara hierarkis sebagai sesuatu yang ada di "dunia atas" seperti di kerajaan, istana,
dan departemen. Sedangkan kekerasan dianggap berada "di luar" atau di "dunia bawah," biasanya dilakukan oleh orang
kebanyakan yang berkeliaran di pasar, kampong, dan jalan raya di daerah yang jauh dari pusat kebudayaan Jawa dan Bali,
seperti Aceh, Papua, Poso, Ambon, dan Sampit. Potret kekerasan di Indonesia biasanya menggambarkan kekerasan
"wong cilik" dari pembakaran pencuri, pembunuhan dukun santet, tawuran antarkampung, kerusuhan ulah para preman,
pertengkaran etnis, sampai perselisihan agama dengan menyensasikan kekerasan sebagai sebuah gejala deformasi
kebudayaan.

Dengan kesibukan antropolog mencari rumusan suatu tatanan, serta prinsip stabilitas suatu masyarakat, struktur sosial
yang membuahkan ketidakadilan dan kekerasan sehari-hari masih bisa dibiarkan terbungkus rapi. Kalaupun disinggung,
kerusuhan yang meletup dianggap sebagai sekadar "kelainan" yang bersifat sesaat, yang tidak berpengaruh terhadap
model yang sedang dicari.

Di satu sisi, teori semacam ini merupakan satu bentuk "pengingkaran kemanusiaan" yang disebut oleh Fabian dengan
istilah denial of coevalness. Di sisi lain, antropologi berkelit dengan "relativitas budaya" dengan argumentasi bahwa
masing-masing kebudayaan memiliki logika internal sendiri. Inilah yang membuat kesan antropologi seolah-olah sekadar
pengintip sosial yang sia-sia, seperti provokasinya Philippe Bourgois, seorang pakar "antropologi publik," yang menulis
etnografi berjudul In Search of Respect dan menyebut antropologi cenderung menjadi "an upper class exercise of
voyeurism."

Massa rakyat yang terjebak dalam kekerasan jarang tersuarakan oleh antropolog dibandingkan dengan suara para tokoh
seperti kepala desa, ketua RT, ketua RW, kepala suku, atau kepala kepolisian. Orang-orang "lemah" dianggap kurang
mampu mengartikulasikan apa yang menimpa mereka. Namun, seperti kebisuan seorang korban perkosaan, bukan
mereka tidak mampu membicarakan apa yang telah dialami. Sebaliknya, antropologi kekurangan bahasa yang bisa
mewakili kepedihan dan penderitaan orang. Kecenderungan ini membuat antropologi seakan-akan pengetahuan yang
berurusan dengan "kepala", tidak jauh beda dengan praktik di kalangan suku primitif yang berburu penggalan kepala
manusia. Tanpa menciptakan praktik "mendengar" yang baru, ilmu sosial di Indonesia berisiko jadi semacam modern-day
headhunting.

Sekarang di Indonesia memang ada manuver untuk meninggalkan apa yang disebut "aliran struktural-fungsional" menuju
teori sosial yang lebih "modern" seperti pendekatan dekontrukstif dengan pembongkaran makna melalui tafsir
hermenutis, post-modernisme yang memberi ruang pada pluralitas dan keterpecahan realitas, sampai pada apa yang
disebut cultural studies yang membedah politik representasi, media massa, konsumtivisme, dan kelas sosial.

Sebagai praktik intelektual, cultural studies membedakan dirinya dengan arus "pemikiran utama", seperti kritik sastra,
sejarah seni, atau antropologi melalui fokus terhadap teks yang diciptakan oleh kelompok pinggiran, seperti komik, seni
rakyat, plesetan, musik alternatif, parodi, media alternatif, dan bentuk-bentuk ekspresi tandingan yang ada di luar jalur
hegemonik. Sumber inspirasi berasal dari kritikus marxist Stuart Hall dari mazhab Birmingham School dan mencoba
memberi suara pada perlawanan sehari-hari "kaum lemah" terhadap diskursus dominan.

Namun, usaha ini belum juga mampu keluar dari hubungan kekuasaan yang melilit antropologi di Indonesia untuk
mengangkat suara mereka yang terbungkam. Di sini pemahaman seorang sosiolog pasca-marxis, Pierre Bourdieu,
memang penting. Menurut Bourdieu, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kelas dalam arti hubungan yang tidak adil
dengan means of production di dunia ekonomi, tetapi lewat produksi dan reproduksi "modal simbolis". Di Indonesia
wacana kebudayaan dipakai untuk meminggirkan penciptaan budaya kaum lemah dan melihat perjuangan sehari-hari
mereka sebagai sesuatu yang tidak punya nilai, sebagai cermin peradaban. Cultural studies bisa mencoba menyulap
sistem penilaian tersebut dan menciptakan definisi baru "kebudayaan". Namun, menurut Bourdieu, kekuasaan juga
berfungsi lewat habitus orang, praktik-praktik yang terbadankan yang mengandung trace of structural violence atau jejak
kekerasan struktural yang melekat dalam hubungan sosial sehari-hari.

Kalau Bourdieu benar, tidak ada subyek yang bebas dari kekuasaan dan tidak ada ruang sosial yang steril dari power.
Kalau begitu, untuk mengerti kekuasaan, tak cukup mengambil suara mereka yang terpinggir sebagai "suara alamiah
perlawanan" yang murni dan tak terkorupsi. Teks yang diproduksi oleh mereka yang disebut massa marginal masih
diciptakan oleh segelintir "brahmana" di antara ribuan massa paria. Dunia sosial berhierarki di antara para pengemis,
pelacur, ekstapol, narapidana, pemadat, preman, dan buruh bukan hanya membuahkan solidaritas di antara mereka,
tetapi juga saling hantam, saling jegal, bahkan saling bunuh karena struktur kehidupan yang membelenggunya.

Di sinilah penting menghidupkan antropologi sebagai ilmu pembebasan di Indonesia. Metodologi antropologi
partisipasi-observasi yang mendekati masyarakat dengan memakai bahasa mereka, mendengar, dan melihat bagaimana
mereka memaknai kehidupan sehari-hari dan melihat lebih akrab lagi struktur kekuasaan yang beroperasi dalam
keseharian di antara mereka yang terpuruk. Daripada membaca "teks pinggiran" di kantor, dengan metode
observasi-partisipasi si antropolog bisa meretakkan tembok tebal yang memisahkan dunia peneliti dan dunia yang diteliti
untuk merasakan konflik, ketidakadilan, baku-tipu dan "ekonomi moral" yang meracuni dunia mereka. Hanya etnografi
yang bisa mendeskripsikan "habitus" yang membelenggu kehidupan mereka yang tersisihkan.

Praktik cultural studies juga memunculkan sebuah bahaya baru: kalau di dunia Barat antropologi sering dikritik sebagai
ilmu yang terpukau berat dengan kebudayaan lain yang eksotik, di Indonesia keterpukauan terbalik, memberi pemujaan
yang berlebihan pada teoretikus impor pascakolonial sebagai ikon. Nama-nama empu kritikus keren seperti Baudrillard,
Habermas, atau Derrida masuk dalam sebuah dunia ekonomi budaya pop, layaknya kegandrungan remaja ABG yang
ngefans berat dengan grup rok alternatif yang menjadi idola mereka.

Untuk ilmuwan Indonesia, nama-nama teoretikus dan kutipan singkat mereka ditempelkan dalam teks seperti tempelan
stiker nama pentolan para roker yang dipajang di helm, sepeda motor, mobil, dan pintu kamar kos. Mungkin ini sebuah
taktik konpensasi dengan harapan-siapa tahu-kesaktiannya nanti bisa menular secara magis. Setidak-tidaknya ini
membuat PD sang ilmuwan yang berasal dari negeri bekas jajahan menjadi terdongkrak, walaupun membuat wujud baru
kolonialisasi, yang mengambil pengalaman orang marginal untuk membuat teks yang berwibawa daripada
merealisasikan solidaritas yang nyata.

Mendiagnosis "patologi kekerasan"

Yang menjadi persoalan sekarang: bagaimana antropologi di Indonesia seharusnya memosisikan diri dalam menyikapi
ketidakadilan? Apakah penelitian jalan terus dengan mengedarkan kuesioner yang terangkai indah tanpa kepekaan sosial
pada perjuangan keseharian mereka yang tersisihkan? Menurut salah seorang dokter humanis, yang juga aktivis dan
antropolog, Paul Farmer, yang dipertaruhkan oleh antropologi bukan hanya perdebatan akademis dengan adu
kecanggihan teori, tetapi sebuah sikap pemihakan terhadap korban stuktural sebuah "patologi kekuasaan". Apakah
antropologi tetap harus berpartisipasi dalam penyebaran virus opresi? Atau, bisakah antropolog di Indonesia memakai
kemampuan mereka membangun komitmen baru serta mendiagnosis dan menyembuhkan patologi kekerasan?

Di era reformasi akhir-akhir ini budayawan berteriak lantang ketika seni etnik dilarang manggung, sistem kepercayaan
yang dianut tak diakui, atau kurikulum tak bermuatan lokal, tetapi mereka tak terusik ketika masyarakat yang diteliti tak
makan. Antropolog bekerja asyik mengumpulkan data untuk publikasi seru tentang ritus, kepercayaan, dan mitos lokal
tanpa menghitung beberapa anak bangsa tidak bisa membaca sama sekali.

Haruskah ilmuwan sosial Indonesia hanya mementingkan tanggung jawab atas "karya besar" mereka sendiri, atau juga
atas ekonomi moral di mana produksi intelektual terjadi? Antropologi be
rutang banyak dari kaum papa. Pengalaman yang
didapat dari bergumul hidup dengan mereka yang terpinggirkan bisa menghasilkan karier, tetapi juga bisa menghasilkan
senjata untuk menyerang mereka. Namun, antropologi bukan hanya sebagai pilihan profesi, tetapi juga "saksi" di mana
tubuh korban kekerasan disiksa, disekap, dihancurkan, dibuang, diculik, bahkan dilenyapkan.



Degung Santikarma Pengamat Budaya,

ingat saudaraku!!!!

Barang siapa yang memelihara ketaatan

Kepada ALLAH di masa muda dan masa kuatnya,

maka ALLAH akan memelihara kekuatannya

disaat tua dan saat kekuatannya melemah.

Ia akan tetap di beri kekuatan, pendengaran,

penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal.

(ibnu Rajab Al-Hambali)


idza shadaqa al 'azamu wadla'a al sabil

Hanya orang yang mau berfikirlah yang meghargai kita, menghargai arti penting dawah. Aku ingat dalam catatan harian Soe Hok Gie ia pernah menuliskan

(Don’t think you can frighten me by telling me that I am alone. God is alone……….
the loneliness of God is his strength…)


Icetea Ghizha
Icetea Ghizha
Create Your Badge

BELAHAN JIWAKU

BELAHAN JIWAKU
saudara seperjuangan di SKI FISIP UNAIR tercinta